Rabu, 04 April 2012

Aku dan Tulisanku

Aku hidup bersama otak dan hatiku yang bekerja bersamaan. Terkadang aku pusing ketika mereka bertengkar saling menyalahkan satu sama lain, tapi terkadang aku merasa sempurna ketika mereka saling mendukung dan membenarkan.

Otakku, sering kali suka menyentuh dan mengerjakan hal-hal yang rumit, tapi terkadang, justru ia malas mengerjakan sesuatu apapun, ia hanya ingin dimanjakan dengan sajian-sajian yang mudah untuk dicerna. Tapi intinya, apapun yang dilakukannya, selalu saja berhubungan dengan duniawi. Itulah yang sering menjadi pemicu bertengkarnya ia dengan Hatiku. Hatiku, hanya menginginkan kedamaian, kebahagiaan, dan ketenteraman yang abadi, tidak seperti dunia yang fana, yang hanya akan berlangsung sekejap saja.

Tapi, jika aku mampu membuat mereka bersatu, walau dalam keadaan suka maupun duka, merekalah yang membantuku menciptakan tulisan-tulisan sebagai hasil dari kerjasama yang baik, antara Aku, Otakku, dan Hatiku.

Tulisanku. Ya, itulah hasil kerjasama yang baik, yang solid, yang dikerjakan dalam suka maupun duka.

Ini adalah salah satu Tulisanku yang terlahir di saat duka.

Kecoa dan Kucing


Kecoa
Busuk, menjijikan.
Jangankan menyentuh,
melirik sekilas pun tak ada yang berkenan.

Tapi, siapa percaya ?
Seekor kucing bermata indah rela menemaninya.
Di tengah heningnya lalu lintas perkotaan,
di sela gaduhnya detak jarum jam.
Dengan busuknya aroma melati,
dan harum semerbaknya gunungan sampah.

Sejenak kucing itu berlalu,
sekedar mencari ikan, atau tulangnya.

Meongg…
“Ah, dia kembali. Kucing manis bermata indah itu kembali.”
Dan dia keliru !
Segerombolan kucing Persia berbulu indah, dengan mata bersinar,
-entah sinar kemurkaan atau apa-
datang, mengelilinginya bak santapan lezat jamuan terakhir,
menginjak-injak tubuhnya, mencabik-cabik dengan kuku-kuku tajam tanda kehormatan mereka,
mengunyahnya dengan senyum amarah, lalu memuntahkannya dengan pandangan kepuasan sebelum akhirnya meninggalkannya dengan langkah kemenangan.

Kecoa
Busuk, menjijikan,
lusuh, dan tercabik pula.
Semakin terbuang.

Kini ia tak lagi ingin mencari teman.
Ia hanya butuh tempat pembuangan, bagi benda buangan yang terbuang dan dibuang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar